Rabu, 08 Maret 2017

Jagalah Hati dari Kesombongan.

Assalamualaikum
Alhamdullilah ya Allah, segala puja dan puji bagimu Pemilik alam semesta ini.

Sobat, adakalanya kita tidak menyadari tentang dosa yang kita perbuat walau itu sangat kecil, tapi dosa itulah yang paling dibenci dan dilaknat Allah biarpun hal itu sepele keadaannya,
Dosa itu adalah sombong dan kesombongan, karena kesombongan adalah milik Allah semata.
Allah sangat membenci kesombongan, karena kesombongan menutupi hati kita terhadap kebenaran, cinta dan kasih.dan menyebabkan Durhaka. walaupun amal ibadah kita sebesar gunung dan beribu ribu tahun. akan hangus hanya dalam sesaat tatkala kita sombong.
Iblis adalah makhluk Allah paling taat dan paling baik amal ibadahnya dibandingkan dengan malaikat. hanya karena secuil kesombongan hilang semua amal ibadahnya dan dilaknat oleh Allah Swt karena kesombongannya menyebabkan kedurhakaan dan tidak menuruti perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. dan Iblis menganggap dirinya Makhluk paling sempurna.
So sobat Iblis yang Amala ibadahnya beribu - ribu tahun hilang begitu saja akibat kesombongan apalagi kita, manusia makhluk yang hina ini.
Sobat hindarkanlah sifat sombong walaupun hanya sebesar partikel atom dan tetaplah tawadlu'
Allahu Akbar, maha besar Engkau Ya Allah.
   
Sombong atau dalam istilah Arabnya Al-Bathar, dalam kamus lisan Al-Arab disebutkan bahwa arti kata bathar sinonim dengan takabur yang berarti sombong. Rasulullah SAW dalam hadis menjelaskan definisi sombong :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong  ialah tidak menerima kebenaran dan menghina sesama manusia.[ Hr. Muslim no. 131]

Menurut Raghib Al Asfahani Ia mengatakan, “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri . Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah  adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan  angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatanataupun mengesakan-Nya”.[Fathul Bari’ 10 hal 601]

Dalam buku ihya’ ulumuddin Al-Ghazali nendefinisikan sombong adalah suatu sifat yang ada didalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu dan tampak dalam perbuatan lahir.
[ Imam Al-Ghazali, Mutiara ihya’ ulumuddin (bandung: mizan, 1997) Hlm 293.]

Secara universal maka, perbuatan sombong  dapat dipahami dengan membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya lebih dari orang lain. perbuatan sombong dibagi beberapa tingkatan yaitu:

    Kesombongan terhadap Allah SWT, yaitu dengan cara tidak tunduk terhadap perintahnya, enggan menjalankan perintahnya
    Sombong terhadap rasul, yaitu perbuatan enggan mengkuti apa yang diajarkannya dan menganggap Rasulullah sama sebagaimana dirinya hanya manusia biasa.
    Sombong terhadap sesama manusia dan hamba ciptaanya, yaitu menganggap dirinya lebih dari orang lain dan makhluk ciptaan Allah yang lain dengan kata lain menghina orang lain atau ciptaan Allah lainya.

Ayat-ayat al-Qur’an Tentang Sombong

    Q.S Al-Isra’:  37

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا (٣٧)

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Muradat

مَرَحًا : kesombongan dan kecongkakan. dalam tafsir Al-Qurtubi pengertiannya adalah kegembiraan yang sangat, sombong dalam berjalan.

لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ : kamu takkan dapat menjadikan jalan di bumi  dengan pijakanmu dan jejakmu yang hebat.[5]

Tafsir ayat

Dalam ayat ini Allah SWT melarang hambanya berjalan dengan sikap congkak dan sombong di muka bumi. Sebab kedua sikap ini adalah termasuk memuji diri sendiri yang tidak disukai oleh Allah dan orang lain.

Almaraghi dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini bahwa, seorang manusia hendaknya jangan berjalan dengan sikap sombong, bergoyang-goyang seperti jalannya raja yang angkuh. Sebab dibawahnya terdapat bumi yang tidak akan mampu manusia menembusnya dengan hentakkan dan injakkan kakinya yang keras terhadapnya. sedang diatasnya terdapat gunung yang takkan mampu manusia menggapai, menyamai dengan ketinggian atau kesombongannya.

Dalam tafsir Al-Qurtubi maksud menyamai gunung adalah manusia dengan dengan kemampuanya ia tidak akan bisa mencapai ukuran seperti itu. Sebab manusia adalah hamba yang sangat hina yang dibatasi dari bawah dan atasnya. Sedang sesuatu yang dibatasi itu terkungkung dan lemah. Dan yang dimaksud dengan bumi, adalah engkau menembusnya dan bukan menempuh jaraknya.[6] Jadi manusia dilingkupi oleh dua benda mati yang kamu lemah dari keduanya. Maka bagi orang yang lemah dan terbatas, tak patut baginya bersikap sombong.

Oleh karena itu besikap tawadhulah, jangan takabur/sombong, karena kamu hanya makhluk yang lemah, terkurung anatra batu dan tanah, oleh karena itu, janganlah kamu bersikap seperti makhluk yang kuat dan serba bisa. Ayat ini merupakan teguran keras, ejekan dan cegahan bagi orang yang bersikap sombong.[7]

    AS-SAJDAH :15

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ (١٥)

Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

Mufradat

: ذُكِّرُوا dinasehati dengan ayat-ayat Allah

خَرُّوا: mereka terjatuh (menyungkur)

وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ  : mereka mensucikan dari siafat yang tidak layak bagi kebesaran dan keagungannya

Tafsir ayat

Menurut Quraish shihab dalam Ayat ini Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang mukmin yaitu apabila mereka diperingatkan dengan Ayat-ayat Allah mereka segera menyungkur dan bersujud  dan bertasbih memuji rabbnya, dan mereka tidak menyombongkan diri. Dan ayat ini juga menggambarkan dua sifat orang mukmin yang menonjol pertama, pengetahuan dan pertambahan iman mereka setiap mendengar ayat-ayat Allah, dan kedua kerendahan hati mereka yang dicerminkan dengan tasbih dan tahmid serta dilukiskan dengan kalimat “sedang mereka tidak menyombongkan diri.[8]

Dalam tafsir Al-Qurtubi yang dimaksud tidak menyombongkan diri disini, menurut Yahya Bin Sallam adalah, tidak menyombongkan diri terhadap Allah dengan tidak melaksanakan ibadah atau perintahnya. Dan menurut An-Naqqasy tidak menyombongkan diri seperti penduduk makkah yang enggan bersujud pada Allah.

    AZ-ZUMAR :60

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ (٦٠)

60. dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?

Tafsir mufradat

وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ : wajah-wajah mereka menghitam karena nampak padanya pengaruh-pengaruh kehinaan dan penyesalan

مَثْوًى: tempat tinggal

Tafsir ayat

Dalam ayat ini Al maraghi menjelaskan bahwa Allah SWT memperlihatkan pada Rasul SAW di hari kiamat, wajah dari orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, yaitu mereka yang mengagaap bahwa Allah mempunyai anak, dan bahwa Allah mempunyai sekutu, mereka berbuat sombong lalu menyembah sesembahan-sesembahan lain selain allah, wajahnya berwarna hitam, karena diliputi kesedihan dan kepiluan  yang menguasainya dan kemuaraman yang dialaminya. mereka dikembalikan ke penjara, dimana mereka akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan disebabkan karena keengganan mereka untuk mematuhi kebenaran.


Demikian pembahasan somobong beserta beberapa ayat yang telah dikemukakan diatas. semoga yang sedikit ini bisa memberikan manfaat.

Senin, 24 Oktober 2016

Mana Yang Lebih Dahulu Ayam Atau Telur

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mungkin pertanyaan tersebut hanyalah untuk main-main saja. Kalau jawab: ayam, nanti dibilang: akan ayam dari telur. Kalau jawab telur, nanti dibilang: Yang bertelur kan ayam.
Perselisihan yang panjang sebagaimana perselisihan tentang “mana yang dahulu ayam atau telur”. Tidak ada manfaat berdebat tentang ini. Mereka mengatakan, sebagaian ahli filsafat membahas tentang ini. Di antara mereka ada perdebatan dan permusuhan yang sengit di berbagai negara.

Pertanyaan ini bisa muncul dari ahli filsafat yang memakai akal logika saja dalam berpikir. Mereka mengira dunia ini bisa terjadi secara kebetulan saja. Sehingga perlu diselidiki mana yang lebih dahulu, ayam atau telur.
Oleh karenanya, SESUNGGUHNYA binatang bisa memberi pelajaran kepada manusia, meski seringkali kita tak menyadarinya. Dan memang begitu pulalah binatang-binatang diciptakan oleh Allah swt., yang salah satu tujuannya adalah untuk memberi pelajaran bagi manusia.

Pertanyaan seperti ini, wallahu a’lam, secara langsung atau tidak langsung akan membuat bingung seorang muslim yang tidak jeli dalam berfikir. Termasuk saya, dulu, ketika saya belum tahu jawaban yang sebenarnya sesuai Al-Quran (masya Allah, sepela aja ada di Al-Quran, ya?!) Dia akan digiring untuk meragukan keberpasang-pasangannya makhluk Allah. Jika dia keliru menjawab, ‘telur’, maka dia telah keliru dalam hal ini. Makanya, itulah pentingnya mengatakan ‘wallahu a’lam bish showwab’. Karena Ibnu Abbas pernah berkata, “Mengucapkan ‘saya tidak tahu’ adalah setengahnya ilmu.”
Tapi, jika kita cermati dengan teliti, pertanyaan ‘sepele’ tersebut akan menghasilkan jawaban yang pasti dan tidak bisa dibantah lagi dengan alasan apapun juga. Bahkan, alasan terkuat untuk menjawab pertanyaan itu telah ada di dalam Al-Quranul Karim.
Allah berfirman :

“Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kamu berkembangbiak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura: 11)

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (Adz-Dzariyat : 49)

Maha Suci Allah dari segala kekurangan dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Ayam adalah termasuk binatang/hewan yang Allah pun menciptakannya berpasang-pasangan. Ini menunjukkan bahwa ayam pun diciptakan berpasang-pasangan. Sehingga, terciptalah ayam jantan dan ayam betina. Mana mungkin Allah menyalahi firman-Nya sendiri dengan kemudian menciptakan telur jantan dan betina?! Subhanallah. Walaupun untuk menciptakan yang demikian itu sangatlah mudah bagi Allah.

Baru-baru ini “Discovery Science” menemukan fakta ilmiah bahwa ayam dahulu yang diciptakan karena untuk adanya telur perlu protein tertentu yang hanya ada ayam.

Dua universitas di Inggris, Sheffield University dan Warwick University, secara khusus melakukan penelitian. Dr Colin Freeman dari Sheffield University, mengatakan bahwa penelitian ini menggunakan UK Science Research Council's super-computer yang dinamakan HECToR (High End Computing Terascale Resource).

Dengan perlakuan-perlakuan tertentu, HECToR diprogram untuk membuat sel inti. Setelah kurang lebih satu pekan, HECToR menghasilkan sejenis protein bernama Ovocledidin-17 (OC-17). Protein ini terdapat dalam sel ovarium ayam betina dan merupakan bagian paling vital dalam sel yang ada dalam telur.
Setelah ada pembuahan, protein inilah yang membentuk bagian-bagian mikroskopik dalam sel telur, bersama dengan senyawa lain seperti calcium carbonate yang membentuk calcite crystals (cangkang telur).

Dengan demikian, tanpa protein ini, sel tidak akan terbentuk menjadi telur dan telur pun selanjutnya tidak akan berkembang dan membusuk, tidak bisa berlanjut ke proses penetasan menjadi ayam.

"Kini kita sudah bisa memberikan jawaban yang melegakan dan bisa dipertanggungjawabkan. Bahwa berdasarkan penelitian, atas nama sains dan ilmu pengetahuan, ayam hadir lebih dahulu ketimbang telur,"

Alhamdulillah.

Kamis, 11 Agustus 2016

Kisah Tukang Bersih Bersih Masjid

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Kisah dari dua sahabat yang lama tidak bertemu antara harri dan susanto ; harri orangnya cerdas dan penuh semangat tapi sayang kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Susanto adalah sosok yang pintar dan keadaan orang tuanya mendukung karir masa depan.

pada suatu saat Keduanya bertemu. mereka bertemu di tempat wudlu di sebuah masjid yang indah, pemandangan pegunungan dengan perkebunan terhampar hijau di bawahnya. Sungguh mempesona.

Susanto sekarang adalah manager kelas atas yang berpenampilan, necis, perlente, tapi tetap menjaga kesholihannya. Setiap keluar kota, ia menyempatkan singgah di masjid kota yang ia singgah. Untuk memperbaharui wudhu dan sujud syukur. Syukur masih mendapat waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah sebagai tambahan.

di suatu saat susanto sedang mencari masjid. Sembari menepikan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan.
Di sanalah ia temukan harri. Terperangah. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak berada, tapi mempunyai kecerdasan dan dan semangat yang luar biasa
Susanto tak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia temukan harri sebagai tukang bersih-bersih masjid.

susanto menyapa harri
“Maaf, kamu harri kan? harri kawan Sekolah dulu?”.
Yang disapa tak kalah mengenali. Keduanya berpelukan.
“Keren sekali kamu ya Mas… Mantap…”. susanto terlihat masih dalam keadaan berdasi. Lengan yang digulung untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam ber-merk terlihat oleh harri.
“Ah, biasa saja…”. ujar susanto
susanto menaruh iba. harri dilihatnya sedang memegang kain pel, khas tukang bersih-bersih masjid celana pendek tiga perempat dengan ikat pinggang sarung, dan peci didongak hingga jidatnya terlihat jelas.

“harr… Ini kartu nama saya…”.
harri melihat. “wahh Manager Operasional rek…”. Wah, keren."
“harr, selepas saya shalat, kita bincang ya? Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar tukang bersih-bersih masjid Maaf…”.
harri tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita bincang.

Sambil wudhu, Susanto terus berfikir. Mengapa harri yang secerdas itu harus menjadi seorang tukang bersih-bersih masjid.. Ya, meskipun tak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih masjid., tapi tukang bersih-bersih masjid.… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. susanto menyesalkan kondisi negeri ini yang tak berpihak kepada orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajah… Sekali lagi susanto melewati harri yang sedang bersih - bersih. Andai saja harri mengerjakan pekerjaan ini di kantorku, maka sebutannya Office Boy”.

Pas dibelakang susanto. Tampak seseorang yang sedang membaca Al quran. yang sedang memperhatikannya.

seusai sholat susanto berdoa, dan sempat melirik. bergumam dalam hatinya “Barangkali ini kawannya harri”.
Susanto segera menyelesaikan doanya dan ingin segera bincang dengan harri.

“Pak”, tiba-tiba anak muda yang membaca Alquran di belakangnya menegur.
“Iya Mas..?” susanto menjawab
“Bapak kenal dengan bapak Haji harri…?”
“Haji harri…?”
“iya pak, Haji harri…”
“Haji harri yang mana…?”
“Itu, yang barusan berbincang dengan Bapak…”
“Oh… si harri itu… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di sekolah. memang Sudah haji?”
“Dari dulu sudah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun masjid ini…”.
Kalimat datar yang cukup menampar hati susanto… sudah haji… dari sebelum bangun masjid ini…

Anak muda tersebut menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang sebenarnya tukang bersih-bersih di masjid ini. Saya karyawan beliau. Beliau yang bangun masjid ini. Di atas tanah wakaf pribadi. Beliau bangun masjid indah ini sebagai transit bagi siapapun yang hendak shalat. Bapak lihat gedung perkantoran di bawah sana? Juga Sekolahan dan pesantren di seberangnya? … Itu semua milik beliau... Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaan beliau aneh pak; beliau senang menggantikan posisi saya.
Beliau sering menyuruh saya membaca Alquran, sementara beliau mendengarkan sambil bersih-bersih masjid ini…”.
Karena suara saya bagus dalam membaca Alquran, saya diminta mengaji dan azan saja dimesjid ini…”.
(Wah, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Susanto saat ini….)

Coba kita renungkan
Jika Susanto adalah kita, mungkin saat bertemu kawan lama yang sedang bersihkan toilet, pasti kita akan segera beritahu posisi kita, siapa kita yang sebenarnya.

Atau jika kita adalah harri, kawan lama menyangka kita tukang bersih - bersih masjid, kita pasti akan menyangkal, lalu menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah bahwa kita adalah seorang pengusaha, pewakaf dan yang membangun masjid.

Kita bukan Haji harri. Beliau selamat dari rusaknya nilai amal dan terhindar dari Riya', tenang, adem. Haji harri merasa tidak perlu menjelaskannya.
Dan kemudian ALLAHlah yang memberitahu siapa sebenarnya. Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukannya.
Ibarat pepatah Tangan kanan memberi dan berbuat baik, tangan kiri jangan sampai tahu.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
 “Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. 
(HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no.1031,dari Abu Hurairah)

Permisalan sedekah dengan tangan kanan dan kiri adalah ungkapan hiperbolis dalam hal menyembunyikan amalan. Keduanya dipakai sebagai permisalan karena kedekatan dan  kebersamaan kedua tangan tersebut.

Allah berfirman
وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaan sebagai berikut.
Pertama: Dia bukanlah termasuk orang yang jadi uswah (jadi contoh), maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan amalannya.
Kedua: Dia adalah orang yang jadi uswah, maka menampakan amalan –seperti amalan sedekahnya- lebih baik karena hal itu akan membuat lebih akrab dengan orang miskin dan dia pun bisa jadi uswah bagi orang lain. Dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga bisa mendorong orang-orang kaya untuk bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.”